Dan Akan Selalu
Begitu.......
Cahaya
surya mulai terpancar di ufuk timur, irama merdu burung burung kecil mulai
menggema seakan menemani sapaan lembut kokok ayam yang mulai bersahutan,
membuka kehidupan seorang gadis yang masih terbaring cantik di atas ranjang
nyaman berlukiskan nama indah miliknya.
Andini,
ya itulah namanya. Seorang gadis dengan banyak kelebihan yang melekat erat
dalam dirinya. Kau tahu apa alasannya? Karena dia merupakan seorang gadis
cantik dengan kebijakan hati serta finansial berlebih yang mengitarinya. Gadis
manapun selalu ingin berkawan baik dengannya, dan pria manapun tak pernah
memalingkan wajah saat perawakannya mulai melangkah di depan mata.
Tetapi,
apakah semua itu dapat menjadi modal utama dalam menjalani kehidupan? Tidak..
semua itu baru hanya segenggam komponen yang belum tersempurnakan. Karena ada
satu hal yang tak pernah ia sadari dalam hidupnya... Mencintai dan di cintai
dengan tulus tanpa ada benteng penghalang yang menghadang.
"Selamat
pagi pangeran AN. Bagaimana kabarmu? Pasti baik baik saja kan? Semoga doa doa
yang selalu ku panjatkan dapat di rasakan olehmu."
Itulah
sepenggal ukiran doa yang selalu ia panjatkan setiap kali di tatapnya sapu
tangan biru biru langit yang terlukis kata AN berada tepat di depan matanya.
Entah
apa dan siapa itu AN. Yang jelas Andini menganggap bahwa sosok AN merupakan
sosok pria tanpa identitas dengan kepahlawanan tanpa balas jasa baginya.
Kau tahu
mengapa itu terjadi ? Dan bagaimana sosok AN dapat begitu membekas dalam benak
dan hatinya?
************3BulanYangLalu***********
Heningnya
malam mulai berbaur satu dengan kegelapan. Ramai nya suara kini mulai redup
dengan bertambahnya waktu yang sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB.
Sepi dan
gelap mulai menjadi satu komponen alasan dari ketakutannya. Fikiran negatif
mulai menghantui fikiran dan hatinya.
Entah
apa kini yang sedang di fikirkannya. Mungkin ia sedang memutar balik opini
bodohnya yang tak mungkin semua itu dapat terulang seutuhnya.
Opini
apa itu? Opini seperti apakah yang bisa membuat gadis macam Andini terbuai
karenanya? Kau tahu? Ternyata opini tersebut berlandaskan sebuah persahabatan,
alasan kebersamaan dalam sebuah ikatan persahabatan membuat hati Andini goyah
di buatnya. Raut kebahagiaan memang terpancar dari wajahnya saat matahari masih
mampu menemani. Tetapi sekarang? Matahari mulai lelah dengan meredupkan setiap
cahaya yang ia pancarkan.
"Mungkin
ini akibat dari opini bodoh yg membuaiku, sehingga aku terjatuh di lubang
kesengsaraan." Batin Andini dengan isak tangis yang terus membanjiri
pipinya.
Entah
sebuah kebetulan atau memang takdir Tuhan, terdapat segerombolan pria dengan
wajah sangar mendekati bahkan hampir menyentuh tubuh mulus Andini. Topeng hitam
serta jaket kulit hitam yang di kenakan pria pria jahat tersebut seakan
memperparah suasana hatinya malam ini.
Pikirannya
mulai kacau, tubuhnya mulai lunglai dengan paksaan dari pria-pria jahat
tersebut. Isak tangis serta rontaan keras yang Andini lakukan serasa tak
berarti baginya.
Tetapi
tak lama, sosok pria bermotor dengan pelindung kepala yang masih melekat di
atasnya, mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang dan menyelamatkan
Andini.
Entah
siapa dia, mengapa pria tersebut seakan malaikat Tuhan yang turun dengan
anugerahnya. Sungguh aneh, di saat kabut hitam tengah melingkup tubuhnya, telah
muncul pula sinar pelangi yang mendekapnya.
Di
dudukkannya Andini dengan lembut di atas kursi nyaman di sekitar tempat
kejadian perkara. Entah mengapa, Andini merasa sangat nyaman dengannya,
sentuhan lembut di setiap air mata yang telah jatuh, terasa seperti sentuhan
ribuan bulu bulu lembut yang mendekap tubuh. Penenangan yang terukir di setiap
kata demi kata yang ia uangkapkan serasa seperti panggilan Tuhan dengan
manisnya.
"Tuhan
siapa dia? Mengapa dengan menatapnya, serasa kau tengah berada di depan mataku.
Setiap dekapan lembutnya membuat hati sekeras batupun dapat lunak dengan
mudahnya. " batin Andini dengan pancaran senyuman yang mulai menghiasi
raut wajah yang semula suram.
"Bawalah
ini bersamamu. Anggaplah hari ini hanya mimpi buruk tak berarti. Jangan
menjadikan waktu seakan berhenti saat mengingat masa suram di malam ini."
Ujar pria tersebut dengan memberikan sehelai kain seperti sapu tangan yang
berlukiskan nama dari pemiliknya.
AN ...
hanya inisial itulah yang selalu menjadi bayang saat mengingatnya. Kau tahu
mengapa? Karena pria tersebut adalah pria misterius yang mendekap kasih sayang
tanpa memberi jelas identitas fisik baginya.
Ia hanya
pahlawan, pria tanpa warna tetapi memberi sejuta kenyamanan di dalamnya.
************
Kring..
kring ... kring ...
Suara
dering handphonenya membuat Andini terhenyak dari lamunan. Entah siapa yang
menghubunginya di pagi buta seperti ini, tetapi yg jelas hanya satu orang yang
selalu mampu membuatnya terhenyak di setiap lamunan aneh di pagi hari. Metha ya
dialah orangnya. Sahabat karib Andini semasa SD hingga sekarang yang sudah beranjak
ke bangku kuliahan.
"Assalammu'alaikum
Andini? Kemana saja sih? Pasti ngelamunin pangeran AN mu itu lagi ya? Bosen
kali An. Apa tidak ada lagi pria lain di hatimu?” Ujar Metha menggerutu.
Metha
memang sudah biasa menggerutu saat membangunkan Andini di kala fajar mulai
terpancar. Menurutnya kebiasaan Andini melamun di kala fajar tak baik bagi
seorang gadis yang baru menginjak masa remaja sepertinya.
“Hehe ..
tidak met. Aku hanya sedang membayangkan bagaimana wajah indah dari AN.
Bagaimana kebijakannya? Bagaimana senyum manisnya? Hemm.. tetapi sayang semua
itu tak pernah terangkai dalam setiap impian dan harapanku.” Jawab Andini
dengan tenangnya.\
“Sudahlah
Andini sahabatku tersayang. Cukup! Jangan kau fikirkan dia lagi. Aku mempunya
segudang pria jika kau mau. Untuk apa mengharapkan seseorang yang diapun tak
pernah mengharapkan keadaanmu? Sudahlah An! Kau adalah gadis cantik untuk apa
mengharap pria misterius macam pangeran An mu itu.” Nasihat Metha pada Andini
yang terasa begitu menyesakkan hatinya.
Andini
menghela nafas panjang, ia mulai menutup handphonenya dan segera bersiap pergi
ke sekolah.
*****
Andini
akhirnya tiba di sekolah. Namun heran, Metha mennagkap ada satu kejanggalan
dari raut wajah sahabatnya tersebut. Entah apa yang terjadi padanya, namun
terlihat bahwa ia sedang mengalami kekecewaan.
“Mungkin
karenaku.” Batin Metha mengeluarkan sebuah handphone dari sakunya dan terlihat
sedang menghubungi seseorang, yang entah siapa itu.
“Hay
Andini jangan murung terus dong. Nanti cantiknya hilang loh.” Canda Metha pada
Andini yang tak terlihat respon positif dari Andini.
“Sudahlah
Met, jangan menggangguku. Aku sedang merenungi setia kata demi kata yang kau
ungkapkan tadi pagi padaku. Kau benar, untuk apa aku mengharapkan sosok AN yang
sebenarnya hanya pria khayalan saja bagiku.” Tutur Andini yang mulai melemah
dengan terus melangkahkan kaki dengan pandangan lurus ke bawah.
“Tunggu
An! Aku ingin memperkenalkan seseorang padamu. Dia sangat mengagumi karaktermu.
Dia ingin lebih mengenalmu. Lihatlah An!” Ujar Metha menyemangati kawannya itu.
Sejenak
tutur Metha membuatnya terhenyak. “Mengagumi”? Apa yang membuatnya sampai bisa
mengagumi sosok Andini?
Andini
mulai mengangkat wajahnya dengan perlahan namun pasti. Di bukanya mata yang
semula terpejam malu dan .....
“Hay
Andini, emm .. emm .. ma .. maafkan uacapan dari saudaraku yang jahil ini ya.
Emm hehe .. aku di sini adalah murid baru, dan setiap kali Metha menceritakan
seluruh kisahmu rasanya aku ingin segera bisa mengenal karakter aslimu. Perkenalkan aku Arfan.” Ujar Arfan dengan
menyodorkan tangan yang terbuka memiring seakan ia ingin menjabat tangan Andini.
“Metha
saudaramu? Emm .. Aku Andini. Senang bisa mengenalmu.” Jawab Andini dengan
membalas sodoran tangan Arfan.
****
Kini
persahabatan mulai mereka rangkai sedikit demi sedikit. Canda tawa mulai
terpancar sejak kehadiran Arfan dalam lingkup persahabatannya.
Mungkin
rasanya ia ingin seperti bunga mawar yang selalu nampak subur saat kehadiran
air di sampingnya.
“Andini
simpanlah kotak ini dengan baik. Buka saat waktunya telah tiba” Pesan Arfan
dengan memberikan sebuah kotak berukuran sedang yang selalu mengundang rasa
penasaran di setiap tatapan penuh menjurus pada kotak tersebut.
Andini
sangat bahagia dengan perubahannya yang terhitung sangat drastis. Kini di dalam
fikirannya bukan pangeran AN pria misterius, tetapi Arfan sahabat tersayangnya.
Tetapi
apakah kebahagiaan merupakan akhir dari kisahnya?
*******
Semua
terasa sangat begitu singkat. Kini bukan canda tawa yang mengukir setiap senyum
indah miliknya, tetapi kesedihan.. kesuraman.. semua terasa begitu menghantam
hati dan fikirannya.
Sosok
Arfan yang di kenalnya sebagai pria yang humoris, ceria dengan kebijakan hati
yang begitu luar biasa, kini ia hanya terbaring lemah tak berdaya meratapi
kehidupan yang terasa singkat. Arfan telah mengalami kecelakaan motor sesaat
setelah ia memberi suatu kejutan pada Andini.
Entah
apa yang di fikirkannya kini, Andini hanya bisa terdiam kaku memandangi sosok
yang ia kagumi hanya terlihat terbaring lemah dengan bantuan nafas alat medis.
“Bagaimana
ini? Mengapa Arfan ? Mengapa hanya sesaat kebahagiaan yang kau tunjukkan
padaku? Arfan aku menyesal.. seandainya saat itu kau tak pergi dengan
tergesa-gesa hanya untuk memberi sebuah kado istimewa bagiku. Arfan maafkan
aku.” Jeritan batin Andini dengan isak tangis yang menjadi-jadi.
“Mungkin
ini saatnya? Mungkin inilah waktu yang Arfan katakan padaku. Aku harus segera
membuka isi kotak yang di berikan Arfan. Harus!” Batin Andini menyemangati
diri.
Andini
beranjak pergi tanpa pamit untuk segera pulang memahami makna dari pemberian
Arfan tempo hari.
*****
Sesampainya di rumah di bukanya pintu kamar dengan begitu keras. Di carinya kotak yang ia harapkan sedari tadi. Seluruh isi kamar terlihat seperti satu ruangan yang telah di hantam keras dengan badai.
Sampai
pada akhirnya di temukanlah kotak harapan kebahagiaannya. Di bukanya kotak
dengan perlahan namun pasti. Dan apa ini? Bunga mawar plastik dengan daun yang
terpisah. Apa yang sebenarnya telah di rancang Arfan?
Di bukanya sepucuk surat yang Arfan selipkan bersama bunga tersebut.
Di bukanya sepucuk surat yang Arfan selipkan bersama bunga tersebut.
Dan
inilah isi dari suat tersebut:
Hay
Andini. Kau pasti bertanya-tanya apa yang sebenarnya aku rancang di balik
hadiah sederhana tak berarti seperti ini.
Andini,
aku bimbang. Aku tak ingin seperti bunga mawar yang terpisah dengan daunnya.
Teringat saat beberapa bulan lalu aku pergi menyelamatkan seorang gadis yang
akan di rampok oleh sekelompok pria sangar jahat. Aku selalu teringat akan
wajahnya yang manis, matanya yang sembab karena terus menerus menangisi
keadaan,serta perawakannya yang terlihat begitu menawan hati.
Kau tahu Andini? Ingin rasanya aku selalu mengusap air matanya yang terus menerus membanjiri pipi manisnya tersebut. Ingin rasanya aku menghapus kedukaan yang menimpanya. Tetapi aku tak mampu Andini. Aku hanya pria biasa. Pria yang hanya mengagumi tanpa pernah di sadari.
Kau tahu Andini? Ingin rasanya aku selalu mengusap air matanya yang terus menerus membanjiri pipi manisnya tersebut. Ingin rasanya aku menghapus kedukaan yang menimpanya. Tetapi aku tak mampu Andini. Aku hanya pria biasa. Pria yang hanya mengagumi tanpa pernah di sadari.
Tetapi
sesaat setelah saudaraku Metha memperkenalkan aku pada gadis tersebut, rasa
bahagia selalu mengitariku. Entah bagaimana aku mengungkapkannya. Kini aku
selalu bersamanya dan akan selalu begitu.
Ku harap
kau mengerti arti dari sepucuk surat tak bermakna seperti ini. Yang jelas aku
hanya ingin mengungkapkan, aku mencintaimu Andini. Pangeran AN yang selalu kau
harapkan ada di sampingmu.. menemanimu.
Kini aku
lega dengan pengungkapan seperti ini, meski aku tahu ini bukanlah hal yang di
lakukan pria sejati. Biarlah jika cinta ini tak berbalas kebahagiaan. Cukup kau
tahu.. Aku di sini ada bersamamu dan akan selalu begitu.
Salam
hangat sahabatmu,
Arfan
Kini
isak tangis kembali membanjiri pipi manis Andini, pria yang selama ini telah ia
harapkan tanpa berbalas ternyata selalu ada bersamanya, menemaninya.
Entah
apa yang di rasakannya kini, yang jelas Andini hanya ingin memeluknya dan
membalas ungkapan hatinya. Andini bergegas pergi kembali ke rumah sakit dengan
isak tangis kebahagiaan.
*****
Kini ia
telah sampai di rumah sakit tepatnya di depan ruangan perawatan Arfan.
“Andini”
Ujar seorang gadis yang tak lain adalah sahabatnya Metha.
“Metha..
Metha ternyata pangeran AN adalah Arfan Met. Entah mengapa ia menyembunyikannya
dariku.” Tutur Andini bahagia
“Itu
memang benar Andini, sebenarnya AN adalah panggilan masa kecil dari Arfan. Kau
tahu akulah yang sebenarnya telah membawa Arfan ke duniamu. Aku sedih melihatmu
hanya berharap tanpa balas. Oleh karena itu, saat aku tahu pangeran yang kau
tunggu adalah Arfan, aku sesegera mungkin menghubunginya agar ia dapat masuk ke
kehidupanmu.” Ujar Metha memeluk sahabatnya dengan perasaan haru yang
menggebu-gebu.
“Terima
kasih Metha. Kau memang sahabat terbaikku . Kini tak ada lagi yang aku harapkan
selain membalas kasih dari saudaramu itu.” Ujar Andini memang ke arah jendela
kamar.
Tetapi
tiba tiba ..
Tiiiiittt....
tiiiiiitttt.. tiiiittt alat pemicu jantung seakan memperburuk suasana yang
semula di liput dengan kebahagiaan. Tanda itu....
“Arfaaaaaaannnn”
Teriak
Andini meronta-ronta, ia tak kuasa menahan isak tangis saat di tatapnya Arfan
yang telah di tutup dengan sehelai kain putih. Kesuraman .. kegelapan ..
mungkin itulah yang kini pantas sebagai pengungkapan.
“Arfan
.. aku menyayangimu. Aku telah mengharapkanmu sejak lama.. Maafkan aku .. Maafkan
ketidakpekaanku.” Tutur Andini dengan isak tangis yang terlihat sulit untuk
terhenti bahkan jika di hadang dengan badai sebesar apapun.
Tetapi
tak lama ...
“Benarkah
Andini? Sungguh kau menyangi pangeran AN tersebut?” Ujar seorang pemuda yang
tak lain adalah Arfan.
“Arfan?
Mengapa kau ...”
“Masih
hidup? Haha.. aku telah berpindah ke kamar lain sejak kalian asyik mengobrol di
sini.Itu orang lain An. Emm An, apakah kau telah membuka isi kotak tersebut?
Bagaimana responmu?” Tanya Arfan dengan kesungguhan.
“Kau
tahu Arfan, sejak lama pangeran AN telah menjadi harapan terindahku. Dan
sekarang aku ingin menghabiskan umurku bersamanya.” Jawab Andini dengan
pancaran senyum yang mulai terukir indah di bibirnya.
Arfan
tersenyum, “Terima kasih An, aku berjanji kebahagiaanmu akan selalu menjadi
tanggung jawab terbesarku. Aku akan segera pergi melamarmu dan mewujudkan
seluruh impian dan harapan yang semula terasa samar.”
Andini
hanya tersenyum sumringah mendengar penuturan dari pria yang kini telah menjadi
kekasihnya tersebut.
“Woy
Arfan, carikan aku dulu pacar. Baru kamu bisa melamarnya.” Ujar Metha mencubit
hidung Arfan, yang di ikuti dengan canda tawa yang kini mulai terukir di setiap
ucap kata mereka.
Mungkin
inilah akhir kisah dari setiap harapan yang selalu Andini ukir di setiap
harinya, akhir kisah dengan kebahagiaan dan akan selalu begitu.
****** Tamat *******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar