Jumat, 21 November 2014

Dan Akan Selalu Begitu



                        Dan Akan Selalu Begitu.......

Cahaya surya mulai terpancar di ufuk timur, irama merdu burung burung kecil mulai menggema seakan menemani sapaan lembut kokok ayam yang mulai bersahutan, membuka kehidupan seorang gadis yang masih terbaring cantik di atas ranjang nyaman berlukiskan nama indah miliknya.
Andini, ya itulah namanya. Seorang gadis dengan banyak kelebihan yang melekat erat dalam dirinya. Kau tahu apa alasannya? Karena dia merupakan seorang gadis cantik dengan kebijakan hati serta finansial berlebih yang mengitarinya. Gadis manapun selalu ingin berkawan baik dengannya, dan pria manapun tak pernah memalingkan wajah saat perawakannya mulai melangkah di depan mata.

Tetapi, apakah semua itu dapat menjadi modal utama dalam menjalani kehidupan? Tidak.. semua itu baru hanya segenggam komponen yang belum tersempurnakan. Karena ada satu hal yang tak pernah ia sadari dalam hidupnya... Mencintai dan di cintai dengan tulus tanpa ada benteng penghalang yang menghadang.
"Selamat pagi pangeran AN. Bagaimana kabarmu? Pasti baik baik saja kan? Semoga doa doa yang selalu ku panjatkan dapat di rasakan olehmu."
Itulah sepenggal ukiran doa yang selalu ia panjatkan setiap kali di tatapnya sapu tangan biru biru langit yang terlukis kata AN berada tepat di depan matanya.
Entah apa dan siapa itu AN. Yang jelas Andini menganggap bahwa sosok AN merupakan sosok pria tanpa identitas dengan kepahlawanan tanpa balas jasa baginya.
Kau tahu mengapa itu terjadi ? Dan bagaimana sosok AN dapat begitu membekas dalam benak dan hatinya?

************3BulanYangLalu***********

Heningnya malam mulai berbaur satu dengan kegelapan. Ramai nya suara kini mulai redup dengan bertambahnya waktu yang sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB.
Sepi dan gelap mulai menjadi satu komponen alasan dari ketakutannya. Fikiran negatif mulai menghantui fikiran dan hatinya.

Entah apa kini yang sedang di fikirkannya. Mungkin ia sedang memutar balik opini bodohnya yang tak mungkin semua itu dapat terulang seutuhnya.
Opini apa itu? Opini seperti apakah yang bisa membuat gadis macam Andini terbuai karenanya? Kau tahu? Ternyata opini tersebut berlandaskan sebuah persahabatan, alasan kebersamaan dalam sebuah ikatan persahabatan membuat hati Andini goyah di buatnya. Raut kebahagiaan memang terpancar dari wajahnya saat matahari masih mampu menemani. Tetapi sekarang? Matahari mulai lelah dengan meredupkan setiap cahaya yang ia pancarkan.
"Mungkin ini akibat dari opini bodoh yg membuaiku, sehingga aku terjatuh di lubang kesengsaraan." Batin Andini dengan isak tangis yang terus membanjiri pipinya.

Entah sebuah kebetulan atau memang takdir Tuhan, terdapat segerombolan pria dengan wajah sangar mendekati bahkan hampir menyentuh tubuh mulus Andini. Topeng hitam serta jaket kulit hitam yang di kenakan pria pria jahat tersebut seakan memperparah suasana hatinya malam ini.

Pikirannya mulai kacau, tubuhnya mulai lunglai dengan paksaan dari pria-pria jahat tersebut. Isak tangis serta rontaan keras yang Andini lakukan serasa tak berarti baginya.
Tetapi tak lama, sosok pria bermotor dengan pelindung kepala yang masih melekat di atasnya, mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang dan menyelamatkan Andini.

Entah siapa dia, mengapa pria tersebut seakan malaikat Tuhan yang turun dengan anugerahnya. Sungguh aneh, di saat kabut hitam tengah melingkup tubuhnya, telah muncul pula sinar pelangi yang mendekapnya.

Di dudukkannya Andini dengan lembut di atas kursi nyaman di sekitar tempat kejadian perkara. Entah mengapa, Andini merasa sangat nyaman dengannya, sentuhan lembut di setiap air mata yang telah jatuh, terasa seperti sentuhan ribuan bulu bulu lembut yang mendekap tubuh. Penenangan yang terukir di setiap kata demi kata yang ia uangkapkan serasa seperti panggilan Tuhan dengan manisnya.

"Tuhan siapa dia? Mengapa dengan menatapnya, serasa kau tengah berada di depan mataku. Setiap dekapan lembutnya membuat hati sekeras batupun dapat lunak dengan mudahnya. " batin Andini dengan pancaran senyuman yang mulai menghiasi raut wajah yang semula suram.

"Bawalah ini bersamamu. Anggaplah hari ini hanya mimpi buruk tak berarti. Jangan menjadikan waktu seakan berhenti saat mengingat masa suram di malam ini." Ujar pria tersebut dengan memberikan sehelai kain seperti sapu tangan yang berlukiskan nama dari pemiliknya.
AN ... hanya inisial itulah yang selalu menjadi bayang saat mengingatnya. Kau tahu mengapa? Karena pria tersebut adalah pria misterius yang mendekap kasih sayang tanpa memberi jelas identitas fisik baginya.
Ia hanya pahlawan, pria tanpa warna tetapi memberi sejuta kenyamanan di dalamnya.

************
Kring.. kring ... kring ...
Suara dering handphonenya membuat Andini terhenyak dari lamunan. Entah siapa yang menghubunginya di pagi buta seperti ini, tetapi yg jelas hanya satu orang yang selalu mampu membuatnya terhenyak di setiap lamunan aneh di pagi hari. Metha ya dialah orangnya. Sahabat karib Andini semasa SD hingga sekarang yang sudah beranjak ke bangku kuliahan.

"Assalammu'alaikum Andini? Kemana saja sih? Pasti ngelamunin pangeran AN mu itu lagi ya? Bosen kali An. Apa tidak ada lagi pria lain di hatimu?” Ujar Metha menggerutu.
Metha memang sudah biasa menggerutu saat membangunkan Andini di kala fajar mulai terpancar. Menurutnya kebiasaan Andini melamun di kala fajar tak baik bagi seorang gadis yang baru menginjak masa remaja sepertinya.
“Hehe .. tidak met. Aku hanya sedang membayangkan bagaimana wajah indah dari AN. Bagaimana kebijakannya? Bagaimana senyum manisnya? Hemm.. tetapi sayang semua itu tak pernah terangkai dalam setiap impian dan harapanku.” Jawab Andini dengan tenangnya.\
“Sudahlah Andini sahabatku tersayang. Cukup! Jangan kau fikirkan dia lagi. Aku mempunya segudang pria jika kau mau. Untuk apa mengharapkan seseorang yang diapun tak pernah mengharapkan keadaanmu? Sudahlah An! Kau adalah gadis cantik untuk apa mengharap pria misterius macam pangeran An mu itu.” Nasihat Metha pada Andini yang terasa begitu menyesakkan hatinya.

Andini menghela nafas panjang, ia mulai menutup handphonenya dan segera bersiap pergi ke sekolah.
*****

Andini akhirnya tiba di sekolah. Namun heran, Metha mennagkap ada satu kejanggalan dari raut wajah sahabatnya tersebut. Entah apa yang terjadi padanya, namun terlihat bahwa ia sedang mengalami kekecewaan.
“Mungkin karenaku.” Batin Metha mengeluarkan sebuah handphone dari sakunya dan terlihat sedang menghubungi seseorang, yang entah siapa itu.
“Hay Andini jangan murung terus dong. Nanti cantiknya hilang loh.” Canda Metha pada Andini yang tak terlihat respon positif dari Andini.

“Sudahlah Met, jangan menggangguku. Aku sedang merenungi setia kata demi kata yang kau ungkapkan tadi pagi padaku. Kau benar, untuk apa aku mengharapkan sosok AN yang sebenarnya hanya pria khayalan saja bagiku.” Tutur Andini yang mulai melemah dengan terus melangkahkan kaki dengan pandangan lurus ke bawah.

“Tunggu An! Aku ingin memperkenalkan seseorang padamu. Dia sangat mengagumi karaktermu. Dia ingin lebih mengenalmu. Lihatlah An!” Ujar Metha menyemangati kawannya itu.

Sejenak tutur Metha membuatnya terhenyak. “Mengagumi”? Apa yang membuatnya sampai bisa mengagumi sosok Andini?
Andini mulai mengangkat wajahnya dengan perlahan namun pasti. Di bukanya mata yang semula terpejam malu dan .....
“Hay Andini, emm .. emm .. ma .. maafkan uacapan dari saudaraku yang jahil ini ya. Emm hehe .. aku di sini adalah murid baru, dan setiap kali Metha menceritakan seluruh kisahmu rasanya aku ingin segera bisa mengenal karakter aslimu.  Perkenalkan aku Arfan.” Ujar Arfan dengan menyodorkan tangan yang terbuka memiring seakan ia ingin menjabat tangan Andini.
“Metha saudaramu? Emm .. Aku Andini. Senang bisa mengenalmu.” Jawab Andini dengan membalas sodoran tangan Arfan.

****
Kini persahabatan mulai mereka rangkai sedikit demi sedikit. Canda tawa mulai terpancar sejak kehadiran Arfan dalam lingkup persahabatannya.
Mungkin rasanya ia ingin seperti bunga mawar yang selalu nampak subur saat kehadiran air di sampingnya.
“Andini simpanlah kotak ini dengan baik. Buka saat waktunya telah tiba” Pesan Arfan dengan memberikan sebuah kotak berukuran sedang yang selalu mengundang rasa penasaran di setiap tatapan penuh menjurus pada kotak tersebut.
Andini sangat bahagia dengan perubahannya yang terhitung sangat drastis. Kini di dalam fikirannya bukan pangeran AN pria misterius, tetapi Arfan sahabat tersayangnya.
Tetapi apakah kebahagiaan merupakan akhir dari kisahnya?

*******
Semua terasa sangat begitu singkat. Kini bukan canda tawa yang mengukir setiap senyum indah miliknya, tetapi kesedihan.. kesuraman.. semua terasa begitu menghantam hati dan fikirannya.
Sosok Arfan yang di kenalnya sebagai pria yang humoris, ceria dengan kebijakan hati yang begitu luar biasa, kini ia hanya terbaring lemah tak berdaya meratapi kehidupan yang terasa singkat. Arfan telah mengalami kecelakaan motor sesaat setelah ia memberi suatu kejutan pada Andini.
Entah apa yang di fikirkannya kini, Andini hanya bisa terdiam kaku memandangi sosok yang ia kagumi hanya terlihat terbaring lemah dengan bantuan nafas alat medis.

“Bagaimana ini? Mengapa Arfan ? Mengapa hanya sesaat kebahagiaan yang kau tunjukkan padaku? Arfan aku menyesal.. seandainya saat itu kau tak pergi dengan tergesa-gesa hanya untuk memberi sebuah kado istimewa bagiku. Arfan maafkan aku.” Jeritan batin Andini dengan isak tangis yang menjadi-jadi.
“Mungkin ini saatnya? Mungkin inilah waktu yang Arfan katakan padaku. Aku harus segera membuka isi kotak yang di berikan Arfan. Harus!” Batin Andini menyemangati diri.
Andini beranjak pergi tanpa pamit untuk segera pulang memahami makna dari pemberian Arfan tempo hari.
*****

Sesampainya di rumah di bukanya pintu kamar dengan begitu keras. Di carinya kotak yang ia harapkan sedari tadi. Seluruh isi kamar terlihat seperti satu ruangan yang telah di hantam keras dengan badai.
Sampai pada akhirnya di temukanlah kotak harapan kebahagiaannya. Di bukanya kotak dengan perlahan namun pasti. Dan apa ini? Bunga mawar plastik dengan daun yang terpisah. Apa yang sebenarnya telah di rancang Arfan?
Di bukanya sepucuk surat yang Arfan selipkan bersama bunga tersebut.
Dan inilah isi dari suat tersebut:

Hay Andini. Kau pasti bertanya-tanya apa yang sebenarnya aku rancang di balik hadiah sederhana tak berarti seperti ini.
Andini, aku bimbang. Aku tak ingin seperti bunga mawar yang terpisah dengan daunnya. Teringat saat beberapa bulan lalu aku pergi menyelamatkan seorang gadis yang akan di rampok oleh sekelompok pria sangar jahat. Aku selalu teringat akan wajahnya yang manis, matanya yang sembab karena terus menerus menangisi keadaan,serta perawakannya yang terlihat begitu menawan hati.
Kau tahu Andini? Ingin rasanya aku selalu mengusap air matanya yang terus menerus membanjiri pipi manisnya tersebut. Ingin rasanya aku menghapus kedukaan yang menimpanya. Tetapi aku tak mampu Andini. Aku hanya pria biasa. Pria yang hanya mengagumi tanpa pernah di sadari.
Tetapi sesaat setelah saudaraku Metha memperkenalkan aku pada gadis tersebut, rasa bahagia selalu mengitariku. Entah bagaimana aku mengungkapkannya. Kini aku selalu bersamanya dan akan selalu begitu.
Ku harap kau mengerti arti dari sepucuk surat tak bermakna seperti ini. Yang jelas aku hanya ingin mengungkapkan, aku mencintaimu Andini. Pangeran AN yang selalu kau harapkan ada di sampingmu.. menemanimu.
Kini aku lega dengan pengungkapan seperti ini, meski aku tahu ini bukanlah hal yang di lakukan pria sejati. Biarlah jika cinta ini tak berbalas kebahagiaan. Cukup kau tahu.. Aku di sini ada bersamamu dan akan selalu begitu.

                                                                                    Salam hangat sahabatmu,
                                                                                                Arfan

Kini isak tangis kembali membanjiri pipi manis Andini, pria yang selama ini telah ia harapkan tanpa berbalas ternyata selalu ada bersamanya, menemaninya.
Entah apa yang di rasakannya kini, yang jelas Andini hanya ingin memeluknya dan membalas ungkapan hatinya. Andini bergegas pergi kembali ke rumah sakit dengan isak tangis kebahagiaan.
*****
Kini ia telah sampai di rumah sakit tepatnya di depan ruangan perawatan Arfan.
“Andini” Ujar seorang gadis yang tak lain adalah sahabatnya Metha.
“Metha.. Metha ternyata pangeran AN adalah Arfan Met. Entah mengapa ia menyembunyikannya dariku.” Tutur Andini bahagia
“Itu memang benar Andini, sebenarnya AN adalah panggilan masa kecil dari Arfan. Kau tahu akulah yang sebenarnya telah membawa Arfan ke duniamu. Aku sedih melihatmu hanya berharap tanpa balas. Oleh karena itu, saat aku tahu pangeran yang kau tunggu adalah Arfan, aku sesegera mungkin menghubunginya agar ia dapat masuk ke kehidupanmu.” Ujar Metha memeluk sahabatnya dengan perasaan haru yang menggebu-gebu.
“Terima kasih Metha. Kau memang sahabat terbaikku . Kini tak ada lagi yang aku harapkan selain membalas kasih dari saudaramu itu.” Ujar Andini memang ke arah jendela kamar.

Tetapi tiba tiba ..
Tiiiiittt.... tiiiiiitttt.. tiiiittt alat pemicu jantung seakan memperburuk suasana yang semula di liput dengan kebahagiaan. Tanda itu....
“Arfaaaaaaannnn”
Teriak Andini meronta-ronta, ia tak kuasa menahan isak tangis saat di tatapnya Arfan yang telah di tutup dengan sehelai kain putih. Kesuraman .. kegelapan .. mungkin itulah yang kini pantas sebagai pengungkapan.
“Arfan .. aku menyayangimu. Aku telah mengharapkanmu sejak lama.. Maafkan aku .. Maafkan ketidakpekaanku.” Tutur Andini dengan isak tangis yang terlihat sulit untuk terhenti bahkan jika di hadang dengan badai sebesar apapun.
Tetapi tak lama ...
“Benarkah Andini? Sungguh kau menyangi pangeran AN tersebut?” Ujar seorang pemuda yang tak lain adalah Arfan.
“Arfan? Mengapa kau ...”
“Masih hidup? Haha.. aku telah berpindah ke kamar lain sejak kalian asyik mengobrol di sini.Itu orang lain An. Emm An, apakah kau telah membuka isi kotak tersebut? Bagaimana responmu?” Tanya Arfan dengan kesungguhan.
“Kau tahu Arfan, sejak lama pangeran AN telah menjadi harapan terindahku. Dan sekarang aku ingin menghabiskan umurku bersamanya.” Jawab Andini dengan pancaran senyum yang mulai terukir indah di bibirnya.
Arfan tersenyum, “Terima kasih An, aku berjanji kebahagiaanmu akan selalu menjadi tanggung jawab terbesarku. Aku akan segera pergi melamarmu dan mewujudkan seluruh impian dan harapan yang semula terasa samar.”
Andini hanya tersenyum sumringah mendengar penuturan dari pria yang kini telah menjadi kekasihnya tersebut.
“Woy Arfan, carikan aku dulu pacar. Baru kamu bisa melamarnya.” Ujar Metha mencubit hidung Arfan, yang di ikuti dengan canda tawa yang kini mulai terukir di setiap ucap kata mereka.

Mungkin inilah akhir kisah dari setiap harapan yang selalu Andini ukir di setiap harinya, akhir kisah dengan kebahagiaan dan akan selalu begitu.

                                          ****** Tamat *******